TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Pendidikan ialah faktor utama pembentuk karakter pribadi manusia. Pendidikan merupakan suatu kegiatan umum yang menjamin kelangsungan hidup untuk manusia. Pendidikan berlangsung dimanapun dan kapanpun pada setiap lapisan masyarakat. Secara tidak sengaja maupun sengaja pada kegiatan aktivitas manusia sehari-hari telah terjadi kegiatan Pendidikan. Contohnya setiap kejadian dalam hidup manusia akan menghasilkan sebuah pengalaman hidup. Sebuah pengalaman hidup akan dijadikan sebuah pembelajaran untuk lebih baik di masa depan. Pengalaman hidup sendiri pada dasarnya merupakan hasil belajar.
Aspek penting dalam Pendidikan adalah kegiatan belajar dan pembelajaran. Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Manusia dapat mencapai potensinya melalui kegiatan pembelajaran. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa belajar. Belajar merupakan sebuah proses perubahan. Perubahan-perubahan tersebut membawa ke arah yang positif yaitu kemajuan atau perbaikan.
Pendidikan adalah salah satu aset berharga suatu bangsa. Bangsa yang memiliki kualitas pendidikan terbaik yang dapat meluluskan pekerja yang baik dan memiliki rangkaian inovasi dan kreasi unik akan selalu dibutuhkan oleh perusahan bmaupun instansi nasional bahkan internasional. Belajar menjadi sebuah usaha yang dilakukan sesorang untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan baru unuk membantunya dalam persiapan masa depan. Dalam belajar seseorang akan merasakan perubahan yang terjadi baik secara psikologi maupun secara fisik.
Teori belajar merupakan gabungan dari prinsip-prinsip belajar yang memuat langkah-langkah dan metode pembelajaran yang tepat untuk menanamkan pemahaman dalam diri anak. Teori belajar ini didasarkan pada observasi dan penelitian yang telah dilakukan dan dikembangkan oleh para ahli. Hal ini nantinya akan sangat berguna dalam menentukan strategi pembelajaran yang berkualitas. Teori behaviorisme adalah suatu teori yang menekankan pada perubahan yang terjadi pada peserta didik akibat dari stimulus dan respon yang didapat saat proses pembelajaran berlangsung.

PEMBAHASAN
Pengertian Belajar Menurut Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah laku. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunya sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat, begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap dikuatkan.
Prinsip Aplikasi Teori Behavirostik Dalam Pembelajaran
Teori behaviorisme yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif apa lagi jika diikuti dengan adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang telah ditunjukkan).
Jika yang menjadi titik tekan dalam proses terjadinya belajar pada diri siswa adalah timbulnya hubungan antara stimulus dengan respons, di mana hal ini berkaitan dengan tingkah laku apa yang ditunjukkan oleh siswa, maka penting kiranya untuk memperhatikan hal-hal lainnya di bawah ini, agar guru dapat mendeteksi atau menyimpulkan bahwa proses pembelajaran itu telah berhasil. Hal yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Guru hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada siswa. (2) Guru juga mengerti tentang jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa. (3) Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Aplikasi teori behavioristik dalam proses pembelajaran untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran (siswa menunjukkan tingkah laku / kompetensi sebagaimana telah dirumuskan), guru perlu menyiapkan dua hal, sebagai berikut: (1) Menganalisis Kemampuan Awal dan Karakteristik Siswa Siswa sebagai subjek yang akan diharapkan mampu memiliki sejumlah kompetensi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, perlu kiranya dianalisis kemampuan awal dan karakteristiknya. Hal ini dilakukan mengingat siswa yang belajar di sekolah tidak datang tanpa berbekal apapun sama sekali (mereka sangat mungkin telah memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang di dapat di luar proses pembelajaran).
Rencana strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru terhadap kondisi materi pembelajaran yang sebagian besar siswa sudah mengetahuinya, materi ini bisa dilakukan pembelajaran dalam bentuk ko-kurikuler (siswa diminta untuk menelaah dan membahas di rumah atau dalam kelompok belajar, lalu diminta melaporkan hasil diskusi kelompok dimaksud). Sedangkan terhadap sebagian besar pokok materi pembelajaran yang tidak dan belum diketahui oleh siswa, pada pokok materi inilah yang akan dibelajarkan secara penuh di dalam kelas.
PENUTUP
Teori belajar memiliki beberapa fungsi dalam proses pembelajaran, antara lain fungsi pemahaman, fungsi prediktif, fungsi kontrol, dan fungsi rekomendatif. Melalui fungsi rekomendatif, teori behavioristik dapat merekomendasikan pedoman instruksional kepada pendidik, yang berupa stimulus-stimulus yang tepat dalam proses pembelajaran sehingga memunculkan respon peserta didik yang merupakan hasil belajar yang diinginkan.
Teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dari beberapa teori belajar behavioristik yang dikembangkan dapat disimpulkan bahwa untuk memunculkan respon yang diharapkan dibutuhkan penguatan (reinforcement).
Aplikasi teori belajar behavioristik sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya sehingga model yang paling cocok adalah Drill dan Practice, contohnya: dimanfaatkan di pendidikan anak usia dini, TK untuk melatih kebiasaan baik, karena anak-anak sangat mudah meniru perilaku yang ada dilingkungannya dan sangat suka dengan pujian dan penghargaan.
DAFTAR PUSTAKA
Nahar Novi Irwan. 2016. Penerapan Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Muflihin Muh. Hizbul. Aplikasi Dan Implikasi Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran (Analisis Strategis Inovasi Pembelajaran). STAIN Purwokerto
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Massachusetts: Allynand Bacon.

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
NURKHALIFAH
NIM : 20230110800095

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Pendidikan ialah faktor utama pembentuk karakter pribadi manusia. Pendidikan merupakan suatu kegiatan umum yang menjamin kelangsungan hidup untuk manusia. Pendidikan berlangsung dimanapun dan kapanpun pada setiap lapisan masyarakat. Secara tidak sengaja maupun sengaja pada kegiatan aktivitas manusia sehari-hari telah terjadi kegiatan Pendidikan. Contohnya setiap kejadian dalam hidup manusia akan menghasilkan sebuah pengalaman hidup. Sebuah pengalaman hidup akan dijadikan sebuah pembelajaran untuk lebih baik di masa depan. Pengalaman hidup sendiri pada dasarnya merupakan hasil belajar.
Aspek penting dalam Pendidikan adalah kegiatan belajar dan pembelajaran. Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Manusia dapat mencapai potensinya melalui kegiatan pembelajaran. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa belajar. Belajar merupakan sebuah proses perubahan. Perubahan-perubahan tersebut membawa ke arah yang positif yaitu kemajuan atau perbaikan.
Pendidikan adalah salah satu aset berharga suatu bangsa. Bangsa yang memiliki kualitas pendidikan terbaik yang dapat meluluskan pekerja yang baik dan memiliki rangkaian inovasi dan kreasi unik akan selalu dibutuhkan oleh perusahan bmaupun instansi nasional bahkan internasional. Belajar menjadi sebuah usaha yang dilakukan sesorang untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan baru unuk membantunya dalam persiapan masa depan. Dalam belajar seseorang akan merasakan perubahan yang terjadi baik secara psikologi maupun secara fisik.
Teori belajar merupakan gabungan dari prinsip-prinsip belajar yang memuat langkah-langkah dan metode pembelajaran yang tepat untuk menanamkan pemahaman dalam diri anak. Teori belajar ini didasarkan pada observasi dan penelitian yang telah dilakukan dan dikembangkan oleh para ahli. Hal ini nantinya akan sangat berguna dalam menentukan strategi pembelajaran yang berkualitas. Teori behaviorisme adalah suatu teori yang menekankan pada perubahan yang terjadi pada peserta didik akibat dari stimulus dan respon yang didapat saat proses pembelajaran berlangsung.

PEMBAHASAN
Pengertian Belajar Menurut Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah laku. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunya sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat, begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap dikuatkan.
Prinsip Aplikasi Teori Behavirostik Dalam Pembelajaran
Teori behaviorisme yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif apa lagi jika diikuti dengan adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang telah ditunjukkan).
Jika yang menjadi titik tekan dalam proses terjadinya belajar pada diri siswa adalah timbulnya hubungan antara stimulus dengan respons, di mana hal ini berkaitan dengan tingkah laku apa yang ditunjukkan oleh siswa, maka penting kiranya untuk memperhatikan hal-hal lainnya di bawah ini, agar guru dapat mendeteksi atau menyimpulkan bahwa proses pembelajaran itu telah berhasil. Hal yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Guru hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada siswa. (2) Guru juga mengerti tentang jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa. (3) Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Aplikasi teori behavioristik dalam proses pembelajaran untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran (siswa menunjukkan tingkah laku / kompetensi sebagaimana telah dirumuskan), guru perlu menyiapkan dua hal, sebagai berikut: (1) Menganalisis Kemampuan Awal dan Karakteristik Siswa Siswa sebagai subjek yang akan diharapkan mampu memiliki sejumlah kompetensi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, perlu kiranya dianalisis kemampuan awal dan karakteristiknya. Hal ini dilakukan mengingat siswa yang belajar di sekolah tidak datang tanpa berbekal apapun sama sekali (mereka sangat mungkin telah memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang di dapat di luar proses pembelajaran).
Rencana strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru terhadap kondisi materi pembelajaran yang sebagian besar siswa sudah mengetahuinya, materi ini bisa dilakukan pembelajaran dalam bentuk ko-kurikuler (siswa diminta untuk menelaah dan membahas di rumah atau dalam kelompok belajar, lalu diminta melaporkan hasil diskusi kelompok dimaksud). Sedangkan terhadap sebagian besar pokok materi pembelajaran yang tidak dan belum diketahui oleh siswa, pada pokok materi inilah yang akan dibelajarkan secara penuh di dalam kelas.
PENUTUP
Teori belajar memiliki beberapa fungsi dalam proses pembelajaran, antara lain fungsi pemahaman, fungsi prediktif, fungsi kontrol, dan fungsi rekomendatif. Melalui fungsi rekomendatif, teori behavioristik dapat merekomendasikan pedoman instruksional kepada pendidik, yang berupa stimulus-stimulus yang tepat dalam proses pembelajaran sehingga memunculkan respon peserta didik yang merupakan hasil belajar yang diinginkan.
Teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dari beberapa teori belajar behavioristik yang dikembangkan dapat disimpulkan bahwa untuk memunculkan respon yang diharapkan dibutuhkan penguatan (reinforcement).
Aplikasi teori belajar behavioristik sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya sehingga model yang paling cocok adalah Drill dan Practice, contohnya: dimanfaatkan di pendidikan anak usia dini, TK untuk melatih kebiasaan baik, karena anak-anak sangat mudah meniru perilaku yang ada dilingkungannya dan sangat suka dengan pujian dan penghargaan.
DAFTAR PUSTAKA
Nahar Novi Irwan. 2016. Penerapan Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Muflihin Muh. Hizbul. Aplikasi Dan Implikasi Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran (Analisis Strategis Inovasi Pembelajaran). STAIN Purwokerto
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Massachusetts: Allynand Bacon.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai