TEORI BELAJAR KLASIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

TEORI BELAJAR KLASIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
Seorang guru profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi sebagai pengajar. Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori belajar untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru dengan argumen bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori belajar.

PEMBAHASAN
Teori belajar klasik
Teori klasik Sebelum Abad ke-20, Teori Belajar Klasik :
Teori disiplin mental theistic
Teori ini berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini individu atau anak mepunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Jika daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.
Teori naturalisme (perkembangan alamiah) atau unfoldment atau self actualization Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic, dengan tokoh utamanya Jean Jacques Rouseau. Sama dengan teori kedua sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai  tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan belajar sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya.
Teori apersepsi Disebut juga herbartisme, bersumber pada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi (mengasosiasikan gagasa-gagasan yang lama kegagasan baru), dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.
Implikasi Teori Klasik dalam Pembelajaran
Teori ini hingga sekarang masih mendominasi praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara pembiasaan (drill) disertai dengan hukuman atau reinforcement masih sering dilakukan. Mari kita kaji bersama bagaimanakah implikasi dari teori klasik dalam kegiatan pembelajaran? Implikasi teori klasik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori klasik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau peserta didik. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pendidik atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Tujuan pembelajaran menurut teori klasik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.
PENUTUP
Teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen. Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam spelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia, “Pembelajaran”, https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran (diakses pada 16 September 2023)
Hasmirah Thamrin, “Teori-Teori Belajar”, http://indomaterikuliah.blogspot.co.id (diakses pada 16 September 2023)
Lestari Dewi, (13 september 2016) “Teori teori Belajar dan Pembelajaran”, http://biologi-lestari.blogspot.co.id
Fitrianah Siti (13 september 2016), “Perbedaan Pembelajaran Klasik danModern”, http://fitrianahhadi.blogspot.co.id
“Teori Pembelajaran”, (13 september 2016) http://joegolan.wordpress.co.id

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
Seorang guru profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi sebagai pengajar. Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori belajar untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru dengan argumen bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori belajar.

PEMBAHASAN
Teori belajar klasik
Teori klasik Sebelum Abad ke-20, Teori Belajar Klasik :
Teori disiplin mental theistic
Teori ini berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini individu atau anak mepunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Jika daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.
Teori naturalisme (perkembangan alamiah) atau unfoldment atau self actualization Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic, dengan tokoh utamanya Jean Jacques Rouseau. Sama dengan teori kedua sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai  tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan belajar sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya.
Teori apersepsi Disebut juga herbartisme, bersumber pada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi (mengasosiasikan gagasa-gagasan yang lama kegagasan baru), dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.
Implikasi Teori Klasik dalam Pembelajaran
Teori ini hingga sekarang masih mendominasi praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara pembiasaan (drill) disertai dengan hukuman atau reinforcement masih sering dilakukan. Mari kita kaji bersama bagaimanakah implikasi dari teori klasik dalam kegiatan pembelajaran? Implikasi teori klasik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori klasik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau peserta didik. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pendidik atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Tujuan pembelajaran menurut teori klasik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.
PENUTUP
Teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen. Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam spelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia, “Pembelajaran”, https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran (diakses pada 16 September 2023)
Hasmirah Thamrin, “Teori-Teori Belajar”, http://indomaterikuliah.blogspot.co.id (diakses pada 16 September 2023)
Lestari Dewi, (13 september 2016) “Teori teori Belajar dan Pembelajaran”, http://biologi-lestari.blogspot.co.id
Fitrianah Siti (13 september 2016), “Perbedaan Pembelajaran Klasik danModern”, http://fitrianahhadi.blogspot.co.id
“Teori Pembelajaran”, (13 september 2016) http://joegolan.wordpress.co.id

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai